Feeds:
Posts
Comments

Di counter check-in, ketahuan siapa yang bawaannya melebihi kuota 30 kg dan siapa yang tidak. Nanang dan saya masing-masing 29 kg dan 26 kg, sementara Pak Gaffar 38 kg dan Bu Agnes 35 kg. Karena kami mendaftar sebagai grup, petugas counter Emirates Airways pun menghitung jatah kami sebagai group, yaitu 30 kg x4 = 120 kg. Tapi bobot bagasi kami sebagai grup tetap melebihi kuota, sebab total bagasi kami berempat adalah 29 + 26 + 38 + 35 = 128 kg, alias kelebihan 8 kg. Di sinilah “kebijakan” si Pria Petugas counter dibutuhkan, hehehe. Pria ini mengatakan bahwa kami tidak akan dikenai ongkos untuk kelebihan bebannya, tapi dia meminta kami untuk memberi nilai  bagus untuk pelayanan counter Emirates di bandara Soetta, tempat ia bekerja itu. Dia pun memberitahu cara mengisi kuesioner di layar sentuh interaktif yang tersedia di setiap kursi penumpang nantinya. Pria ini mengatakan bahwa counter Emirates di Soetta sedang bersaing dengan counter maskapai yang sama yang di Bandara Ngurah Rai. Kami berempat setuju, toh tinggal sentuh sana sentuh sini. Dan saya pikir ini transaksi yang adil: counternya mendapat tambahan nilai bagus sementara kami mendapat tambahan bagasi hehehe.

Penerbangan berlangsung dua kali, yaitu dari Soetta (CGK) ke Dubai (DXB) lalu dilanjutkan ke Cairo (CAI). Penerbangan pertama berlangsung tujuh jam, transit di Dubai selama tiga jam, lalu dilanjutkan dengan penerbangan ke Cairo selama empat jam. Total perjalanan, dengan demikian, adalah 14 jam. Meski begitu, seperti umumnya penerbangan jarak jauh penerbangan ini dilengkapi dengan hiburan memadai, dari film, music, informasi penerbangan, dan lain-lain, yang semuanya dapat diakses lewat layar sentuh seperti yang saya sebut di atas. Dan seperti biasa, maskapai menyediakan headset untuk tiap penumpang. Itulah kenapa penerbangan ini tidak membosankan. Tapi secara fisik ia tetap melelahkan meskipun kursinya bisa diatur kemiringannya. Untuk mengurangi kelelahan saya melakukan senam ringan dengan menggerak-gerakkan tungkai kaki dan lutut—petunjuk cara senam ringan ini saya dapatkan dari layar sentuh juga. Meski melelahkan, penerbangan tidak mengabaikan asupan gizi dan energy penumpang. Penerbangan ke Dubai menyediakan breakfast dan lunch sementara yang ke Cairo menyediakan lunch saja. Dan menunya lengkap: ada appetizer, main course dan dessert. Pokoknya sehat dan mengenyangkan deh, hehehe.

Di antara fitur yang disediakan layar sentuh, fitur kamera pesawat adalah yang paling baru buat saya. Dulu fitur ini tidak saya temui waktu terbang ke Australia pada 2010 dan 2012. Saat itu informasi penerbangan di layar hanya berisi ketinggian pesawat, kecepatan pesawat, cuaca di luar, waktu setempat, waktu di kota tujuan, dan posisi pesawat dalam peta dunia baik secara 3D maupun 2D. Berikutnya, fitur standard lainnya adalah flight path dari pesawat, yaitu garis lintasan di peta dunia yang yang menunjukkan jalur yang sudah, sedang dan akan ditempuh oleh pesawat. Tapi selain fitur-fitur standard ini, hal baru di dua pesawat Emirates yang kami tumpangi adalah gambar dari dua kamera, yaitu kamera bawah yang menyorot bagian bawah pesawat secara tegak lurus dan kamera depan yang menyorot ke depan secara horizontal. Penumpang bisa melihat gambar dari kedua kamera itu secara real time. Gambar yang disajikan kedua kamera, menurut saya, hanya menarik pada saat awal-awal setelah take off dan saat-saat menjelang landing. Sebab, gambar yang disajikan pada saat pesawat jauh di atas langit adalah monoton: gumpalan awan-awan putih atau kabut saja; sementara sesar pulau, birunya samudera dan permukaan bumi sudah terlalu jauh untuk bisa ditangkap kamera. Pada ketinggian 60 ribu kaki, tak ada visual yang menarik untuk dilihat, kecuali informasi cuaca yang kadang mencapai -45 derajat Celcius; ini menunjukkan bahwa menumpang pesawat secara gelap dengan bersembunyi di cerukan roda pesawat adalah sangat tidak disarankan, hehehe.

Pesawat tiba di Dubai jam 12 siang. Cuaca di luar bandara 39 derajat celcius. Untung saja kami tidak harus keluar dari gedung bandara, misalnya harus jalan kaki dari tangga pesawat sampai ke lokasi bandara. Untung juga saat turun kami tak perlu mencemaskan bagasi, sebab saat di Jakarta kami check in untuk dua penerbangan Emirates sekaligus, sehingga pihak Emirates langsung memindahkan bagasi kami ke penerbangan ke Cairo tanpa harus mengeluarkannya. Ini faktor penting mengingat Bandara Dubai adalah bandara terbesar di Timur Tengah: untuk mencari gerbang penerbangan ke Cairo, penumpang harus berjalan jauh, naik turun beberapa lantai dan naik kereta otomatis. Betapa melelahkan seandainya kami harus jalan kaki ke sana kemari dengan menyeret-nyeret koper kami yang berat-berat. Selanjutnya, sesampai di dekat gerbang 27, gerbang penerbangan ke Mesir, kami duduk-duduk menunggu datangnya jam tiga sore. Saat itulah rasa lapar menyerang, tapi duit kami hanya ada rupiah dan US dollar, sementara harga-harga di sana dicantumkan dalam mata uang Uni Emirat Arab, Dirham. Sebenarnya ada money changer di situ, tapi saya tak mau menukar uang ke Dirham, karena kalau ada kelebihan, uang itu tak bisa saya pakai di Mesir. Pendeknya, kami tak beli makanan saat di bandara Dubai. Yang kami makan adalah kue sisa dari penerbangan sebelumnya. Untuk mengisi waktu, saya sempat mengobrol dengan orang Nigeria yang hendak kembali ke kampusnya di Glasgow Skotlandia. Pria kulit hitam ini ramah dan sempat mencicipi kue yang ditawarkan oleh Mbak Agnes. Sempat juga saya merokok di lounge khusus perokok—di situ ternyata ramai sekali dengan orang dari berbagai ras: Asia, Eropa, Afrika dan Arab. Saya menyimpulkan betapa kosmopolitannya bandara yang luasnya hampir satu desa ini. Saya juga membayangkan betapa asyiknya jika bisa keluar bandara lalu jalan-jalan di kota Dubai. Tapi sayang kami hanya dijadwalkan untuk singgah di Dubai sebentar dan harus melanjutkan perjalanan ke Cairo.

Kedatangan kami di Cairo disambut oleh seorang anggota staff lokal KBRI Cairo, orang Mesir asli, bernama Pak Hafiz (saya menyebutnya Pak karena dia memang sudah bapak-bapak). Sebelumnya saya pernah dengar di grup WA bahwa pengajar BIPA Mesir tahun lalu dijemput seorang staff lokal yang akan membantu berurusan dengan imigrasi yang konon bisa saja menolakmu masuk Mesir dengan alasan yang tak terduga meskipun kamu punya visa. Jasa Pak Hafiz dibutuhkan untuk mempermudah urusan imigrasi ini. Hanya saja kami tak pernah diberitahu bagaimana rupa dia atau fotonya. Maka kami agak terkejut ketika dia menyongsong kami dengan uluran jabatan tangan lalu tanpa basa-basi meminta paspor dan boarding pass kami. (Belakangan kami tahu bahwa dia sedang buru-buru harus mengantar pulang tamu KBRI yang hendak pulang ke Indonesia). Saat menunggu Pak Hafiz keluar dari imigrasi, saya hirup udara Mesir dalam-dalam, saya rasakan campuran suhu dari AC dan udara panas yang keluar masuk dari pintu, saya tajamkan penglihatan saya untuk mengamati keadaan sekitar, dan saya pasang telinga baik-baik untuk menangkap bunyi apapun. Kesan pertama yang saya tangkap adalah betapa “rileks”-nya orang Mesir: petugas imigrasi dan pegawai lain yang memakai seragam merokok di selasar dan ruang ber-AC, lantai dan gedung bandara terlihat usang dan tak begitu bersih. Kebersihan toiletnya jauh di bawah toilet bandara Juanda. Dari imigrasi Pak Hafiz mengantar kami ke ban berjalan (conveyor belt) untuk mengambil bagasi. Tak kami duga bahwa kami akan berdiri hampir sejam untuk mendapatkan bagasi kami, sehingga Pak Hafiz terpaksa meninggalkan kami termangu menatap ban berjalan yang berputar tanpa henti…

(BERSAMBUNG)

Advertisements

Akhirnya kami Tim Mesir sampai juga di Cairo. Alhamdulillah. Sebelum menginjakkan kaki di Cairo, saya sering ragu bahwa program pengiriman guru BIPA ke Mesir akan terwujud. Sebab, kebanyakan peserta program pengiriman guru BIPA ke luar negeri mengeluhkan keberangkatan mereka yang tertunda-tunda. Di grup di WhatsApp, para guru ini berbagi pengalaman, termasuk kenapa mereka belum berangkat dan sudah berapa lama penundaannya. Cerita-cerita mereka sempat mengkhawatirkan saya, jangan-jangan tim kami juga akan tertunda. Tapi Alhamdulillah Tim Mesir berangkat sesuai jadwal, 1 Agustus 2016. Sungguh menyenangkan bahwa jadwal keberangkatan kami sudah ada sejak Februari dan tidak pernah berubah, beda dari mayoritas peserta yang mundur satu, dua, tiga hingga enam bulan. Bahkan ada yang belum berangkat-berangkat hingga hari ini. Saya juga bersyukur bahwa tujuan keberangkatan saya, Mesir, tidak pernah berubah. Kabar bahwa saya akan dikirim ke Mesir sudah saya terima sejak bulan Desember 2015, dua minggu setelah tes wawancara di Bogor. Ini sangat berbeda dengan mayoritas peserta yang baru diberitahu negara tujuan mereka pada bulan Februari saat mereka di-training di Bogor. Meski begitu, negara tujuan mereka inipun sering berubah…

Perjalanan saya dari Bungah Gresik ke Juanda berlangsung lancar meskipun agak ngepas waktunya — saya menunggu sebentar saja sebelum pesawat tinggal landas jam 7.25. Sementara teman saya, Nanang, sudah di bandara Malang sejak sebelum subuh. Dia berangkat dari Malang dengan travel jam dua dini hari! Saya tak bisa membayangkan harus bangun sepagi itu. Selanjutnya, kami tiba di bandara Halim 8.40 dan disambut sopir GoJek yang sudah Nanang pesan. Sopir ini, Miko namanya, mengemudikan mobil Ertiga dengan elegan dan halus bahkan saat dia ngebut, yang menunjukkan bahwa dia peduli pada kenyamanan tamunya. Mas Miko juga sangat ramah dan selalu memiliki bahan cerita untuk mengisi keheningan saat kami kehabisan bahan omongan. Dia juga generous. Di awal Mas Miko sepakat dengan ongkos 450 ribu, tapi dia tidak meminta tambahan ketika pada prakteknya kami singgah di banyak tempat. Dia mengantar kami ke PPSDK di Bogor, counter JNE di Jakarta Timur, money changer di Jakarta Pusat dan akhirnya hotel di Cengkareng. Dari empat titik itu, counter JNE adalah tambahan yang tak kami rencanakan. Sopir yang serakah mungkin akan mengeksploitasi ini untuk mendapatkan uang tambahan. Tapi Mas Miko tidak: dia mencarikan counter JNE yang letaknya searah dengan rute ke hotel. Dia juga sabar mencarikan money changer yang rate-nya bagus—kami berputar-putar dari Jakarta Selatan (Tebet) ke Jakarta Pusat (Senen) di jalanan Jakarta yang naudzubillah macetnya. Tapi, ketabahan dan kesabaran Mas Miko sudah teruji sejak kami mampir di PPSDK.

Setibanya di PPSDK di Bogor, kami diantar satpam ke lantai dua. Di sana ternyata sudah hadir dua rekan kami dari Tim Pengajar BIPA Mesir, Pak Ghaffar dan Bu Agnes. Di luar kami Tim Mesir yang terdiri dari empat orang, di sana juga ada rekan Awan yang akan dikirim ke Thailand. Sekedar informasi, semua peserta pengiriman guru BIPA ke luar negeri harus mampir di PPSDK untuk menerima tiket pesawat, menandatangani kontrak, menerima kembali paspor yang sudah ditempeli visa, menerima uang bekal hidup di luar negeri, dan…tiga set buku yang beratnya paling tidak 6 kg. Selain itu, PSSDK memberi kami softcopy format laporan yang detilnya luar biasa. Pihak PPSDK juga mem-briefing kami dengan info-info yang penting terkait teknis pelaporan kegiatan. Semua kegiatan di PPSDK ini memakan waktu setidaknya dua jam. Dan Mas Miko sabar menanti di luar, di parkiran di belakang gedung. Dan jangan dikira gedung PPSDK berada di dekat keramaian. Gedung ini berada di daerah terpencil di dataran tinggi Citeureup Bogor yang bahkan tidak dilewati angkot. Gedung PPSDK adalah satu di antara gedung-gedung lain yang serupa di kompleks IPSC (Indonesian Peace and Security Center). Kompleks IPSC ditempati lembaga-lembaga negara yang namanya serius-serius seperti Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), dan Universitas Pertahanan. Di sekitar IPSC tak ada warung, toko kelontong, Indomaret atau apapun yang bisa dipakai nongkrong ketika seseorang jenuh. Untuk mencapai IPSC orang harus naik taksi, ojek atau kendaraan pribadi. Dulu pada saat tes wawancara di PPSDK pada Desember 2015 saya naik bus dari terminal Baranangsiang ke mall Bellanova lalu naik taksi ke gedung ini. Dan di tempat seperti ini Mas Miko menanti kami selama dua jam…

Dengan kesabaran dan kebaikannya, Mas Miko akhirnya mengantarkan kami di tujuan terakhir, J Hotel Bandara Soekarno Hatta. Saya memilih hotel ini karena ratingnya sangat bagus di Traveloka (8.8 dari 10). Dan pada kenyataannya, layanan hotel ini memang sebagus ratingnya. Di hotel ini kami tinggal selama tiga malam, dan selama itu pula kami merasakan layanan yang berkelas mulai dari breakfast, housekeeping sampai layanan bus gratis ke bandara. Petugas hotelnya ramah-ramah (kecuali mas-mas receptionist yang jaga pada tanggal 1 dini hari—dia sedikit ketus). Saya memilih kamar double bed yang membolehkan tamu merokok. Di sekitar hotel ada beberapa warung makan (warung padang, lalapan, nasi goreng dan sebagainya), sehingga untuk makan siang dan malam kami tidak perlu makan di restoran hotel yang menunya mahal-mahal, hehehe. Di samping kelebihannya, hotel ini punya kekurangan: kamar mandi room 329 tempat kami menginap lantainya selalu tergenang air akibat kelandaiannya yang tidak pas, hotel tidak punya kolam renang, dan parkirnya kurang luas. Khusus soal parkir, kami memang tak membutuhkannya, tapi karena semua kendaraan diparkir di depan hotel yang halamannya tak begitu luas, tamu yang bergerak keluar atau masuk hotel harus mencari celah-celah di antara mobil yang terparkir, dan ini tidak nyaman. Tapi secara umum J Hotel Bandara Soekarno Hatta menyenangkan; untuk sebuah hotel bintang tiga, dia layak mendapatkan skor setidaknya nilai 8/10. Layanan terakhir yang kami nikmati di hotel ini adalah shuttle bus dari hotel ke bandara. Perjalanan dari hotel ke bandara sangat singkat, sekitar 15 menit, karena jaraknya hanya 3.6 km. Bus berangkat dari hotel jam 5.00, dan ketika kami turun pada pukul 4.30 di lobi sudah ada beberapa koper yang mengantri untuk dinaikkan ke bus. Selain kami ada tamu-tamu hotel bule dan Korea yang kebetulan juga akan turun di Terminal 2 Bandara.

(BERSAMBUNG)

Sebagai sarjana hukum, saya merasa perlu memberi masukan tentang kualitas pengajaran ilmu hukum di universitas. Sejak lulus tahun 2005 hingga sekarang memang tak pernah mempraktekkan ilmu hukum, tapi saya merasa berkepentingan untuk melihat perbaikan kualitas generasi sarjana hukum setelah saya. Dan salah satu pilar terpenting dari kualitas pendidikan adalah bagaimana perkuliahan ilmu hukum dilakukan. Perkuliahan yang buruk akan menghasilkan pemahaman yang buruk, perkuliahan yang bagus kemungkinan besar akan menghasilkan pemahaman yang bagus pula. Ini bukan hal yang baru.

Segala sesuatu ada ilmunya, termasuk kegiatan mengajar. Untuk mengajar di SD, ada jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), untuk mengajar matematika, ada jurusan Pendidikan Matematika dan seterusnya. Tapi anehnya anda tak akan menemukan jurusan ilmu mengajar di universitas. Anda cukup menguasai konten sebuah ilmu, atau meyakinkan universitas bahwa anda akan jadi dosen yang “baik”, maka anda bisa mengajar mahasiswa. Ketiadaan ilmu mengajar di universitas ini juga berlaku untuk pengajaran ilmu hukum; bahkan mungkin tak ada yang serius memikirkan cara mengajarkan ilmu hukum secara efektif. Saya tak pernah menemukan buku, artikel atau esai khusus mengenai pengajaran ilmu hukum.

Continue Reading »

Mungkin Anda termasuk orang yang punya kemauan BESAR untuk menulis secara rutin (harian, mingguan atau bulanan), tapi  terlalu sibuk untuk mewujudkannya. Anda menduga akar masalahnya ada pada motivasi Anda yang kurang kuat. Lalu Anda memperbarui niat, menata kembali komitmen, dan mencoba untuk menulis secara rutin, tapi sayangnya gagal terus! Anda tak pernah benar-benar rutin melakukannya. Karena seringnya kegagalan memenuhi komitmen diri, lama-lama kepercayaan diri Anda runtuh, dan Anda tak mau lagi mencoba untuk menulis. Kira-kira situasi saya sekarang seperti ini, hehehe.

Bandingkan situasinya dengan saat kuliah, saat Anda mampu menghasilkan banyak tulisan (esai, tugas, review, dsb.) dalam waktu yang relatif pendek. Mungkin Anda sendiri heran, ketika membuka-buka file lama, di situ terdapat tulisan-tulisan yang tergolong masterpiece meskipun waktu untuk menyelesaikannya cukup pendek. Kenapa waktu itu bisa, tapi sekarang tidak? Penjelasan yang paling masuk akal adalah karena ada “faktor eksternal”: Anda menulis tidak dari motivasi diri Anda sendiri, melainkan desakan dari luar.

Continue Reading »

Akhir-akhir ini, beberapa stasiun TV nasional menyajikan pelbagai program dengan modal video dari Youtube. Sebutlah misalnya On the Spot dan Spotlight di Trans7, Hot Spot dan Top Banget di Global TV, Woow! di Anteve dan Top 5 di RCTI. Proses produksi acara seperti ini tergolong instan dan sangat murah dibandingkan pembuatan program-program konvensional. Iwan Awaluddin Yusuf (2012) memaparkan langkah-langkah pembuatan program instan di atas sebagai berikut. Pertama, tim kreatif menentukan tema yang dianggap menarik dan mengembangkannya menjadi draft naskah. Draft ini diperiksa kelayakannya oleh produser sebelum disetujui. Langkah kedua adalah mengunduh video dari Youtube sesuai tema yang telah ditentukan. Terakhir, video unduhan dari Youtube dan naskahnya diserahkan ke bagian editing. Menurut Iwan, unsur penting dalam editing ini adalah penyempurnaan kualitas video dan pengisian suara narator (voice over). Menariknya, produksi acara dengan langkah seperti ini memakan kurang dari 10 juta rupiah per episode. Jika programnya tidak memakai pembawa acara dan tidak memerlukan syuting, biayanya hanya sekitar 700 ribu rupiah, tapi pemasukan dari iklan sama besarnya dengan program yang dibuat secara regulers! Sungguh menggiurkan…

Continue Reading »

Tersesat di Aberfoyle

hujan mengaburkan kaca jendela

mendung membuat siang itu berjelaga

para penumpang diam

entah memikirkan apa

 

mungkin berharap musim dingin

agar menyisihkan sedikit kehangatan

seperti hangatnya udara

dalam sebuah bis metro

yang menjeratku dalam lelap

merayuku dengan tarian mimpi

yang berderap-derap

Continue Reading »

Social science should be at the heart of policy making. We need a revolution in relation between government and the social research community — we need social scientists to determine what works and why, and what type of policy initiatives are likely to be most effective.” (Blankett, 2000).

We have witnessed many policies are made, implemented and failed – partially or completely. The government seems to have unending energy to produce something that might not work. The failure list seems long, covering many areas of public interest, from collapsing building to religious intolerance, from failed price control of strategic commodity to acute traffic congestion. The list is endless.  Somebody out there must have been wondering, why the government has not stopped for a moment to think what went wrong with their policy making? One can propose different hypothetical answers, but a plausible explanation might be that the government is simply not thinking. What a public official does is probably just running bureaucracy, and in doing so he or she does not have to think. When they do, it is the political consideration that occupies their mind. They do think, but probably only for themselves – politically, or worse, economically.

Continue Reading »